jump to navigation

Kartu Shar’e Tertelan di ATM Mandiri Rawajati Kalibata September 13, 2009

Posted by erwinfs in Fakta & Peristiwa.
add a comment

Jumat sore, 11 September 2009 saya menarik uang di ATM Mandiri Rawajati Kalibata dengan menggunakan kartu Shar’e yang dikeluarkan oleh Bank Muamalat Indonesia. Ketika pertama kali menarik, uangnya tidak keluar dan di layar ATM muncul pernyataan bahwa transaksi tidak dapat diproses. Tapi struknya saya terima berisi pernyataan bahwa dana saya telah terdebit. Berhubung saya pernah mengalami hal ini maka saya tidak begitu panik. Akhirnya saya ke ATM disebelahnya dimana seorang lelaki masih melakukan transaksi sehingga saya harus antri menunggu.

Ketika menunggu, saya baca di dekat layar ATM bahwa kartu akan tertelan dalam tempo yang cukup cepat bila tidak diambil. Saya sudah merasa kurang nyaman karena saya sangat jarang bertransaksi di ATM Mandiri Rawajati sehingga saya belum familiar dan terbiasa dengan mesin ATM. Akhirnya tiba giliran saya melakukan transaksi di ATM. Saya berencana mengambil dua kali. Baru selesai transaksi pertama dan sementara menunggu uang, kartu keluar muncul sedikit dari lubang, tapi saya memutuskan harus ambil uang yang keluar dari ATM. Setelah uang saya ambil, ternyata kartu langsung tertelan. Kemudian saya melapor ke petugas bank Mandiri. Waktu itu memang sudah tutup tapi masih ada petugas. Sayang sekali petugas tidak bersedia untuk mengambilkan kartu saya yang tertelan.

Akhirnya saya menenangkan diri sejenak di sebuah tempat yang tidak jauh dari plaza Kalibata. Kemudian saya menelpon Salam Muamalat. Petugas (lelaki)  menyarankan agar kartu diblokir. Saya setuju dengan terlebih dahulu bertanya apakah masih bisa melakukan transaksi phonebanking jika kartu diblokir. Petugas menjawab masih bisa. Tentu saja saya senang karena berharap bisa memindahkan dana saya ke rekening BMI lain yang sudah saya siapkan.

Malamnya saya coba phonebanking Muamalat, mesin selalu menjawab data yang saya masukkan salah. Akhirnya saya telpon Salam Muamalat lagi. Ternyata menurut petugas (wanita), jika kartu diblokir maka phonebanking tidak bisa digunakan. Saya juga menerima penjelasan bahwa jika punya buku rekening masih bisa menarik dana. Padahal setahu saya kalau Shar’e tidak ada buku rekening. Mungkin ini produk baru. Cuma sayang sekali ketika saya mencoba bertanya tentang hal ini nampaknya petugas kurang berkenan. Ini bisa dilihat dari intonasi yang dia ucapkan.

Saya jadi kecewa dua kali dengan palayanan Salam Muamalat. Yang pertama memberikan informasi yang keliru, dan yang kedua tidak memberikan layanan yang baik kepada nasabah yang sedang ditimpa musibah. Saya berharap agar manajemen BMI melakukan perbaikan terhadap kualitas pegawai Salam Muamalat agar nasabah bisa mendapatkan kenyamanan ketika berkomunikasi, apalagi jika nasabah tersebut ada masalah yang kurang bagus.

Setelah menutup telpon, maka saya memutuskan untuk melapor ke Polisi agar bisa diproses di kantor BMI. Mudah-mudahan pas hari raya saya sudah bisa menggunakan dana saya tersebut.

Terakhir, saya juga kecewa dengan ATM Mandiri Rawajati. Selama ini saya transaksi di ATM Mandiri tidak pernah mengalami hal demikian. Saya tidak tahu apakah seluruh ATM Mandiri sudah memiliki standar yang sama mengenai mekanisme penelanan kartu. Sebagai bagian dari ATM Bersama seharusnya Bank Mandiri dan Bank lainnya harus memberi toleransi waktu kepada nasabah yang tidak familiar dengan seluruh mesin ATM Bersama yang memiliki karakteristik berbeda-beda.

Wallahua’lam….

Pengalaman dari Plaza Buaran Januari 26, 2009

Posted by erwinfs in Fakta & Peristiwa.
add a comment

Ahad kemarin saya dan keluarga pergi ke Plaza Buaran untuk sebuah keperluan membeli hadiah ulang tahun untuk teman anak saya. Setelah selesai urusannya, maka saya mencoba berkeliling mencari tempat makan.

Saya bermaksud membayar dengan kartu kredit, dan untuk itu saya mesti tanya dahulu apakah sebuah tempat yang saya datangi melayani pembayaran dengan kartu kredit. Beberapa tempat sudah saya tanya dan dijawab dengan baik bahwa mereka tidak menerima pembayaran dengan akrtu kredit. Pilihan saya dan istri jatuh ke sebuah tempat makan yang namanya ada kemiripan dengan nama bahan bakar. Ketika saya mendatangi pintu depannya, saya tanya ke petugas yang sedang berada di pintu depan apakah melayani pembayaran dengan kartu kredit. Petugas menjawab menerima pembayaran dengan kartu debit sebuah bank. Namun, karena saya ingin memastikan saya tanya lagi karena saya khawatir petugas memiliki informasi yang kurang lengkap.

Ternyata dia hanya melengos dan mencoba berbicara dengan petugas yang sedang membersihkan lantai dekat pintu masuk. Saya sangat prihatin dengan mentalitas pegawai di rumah makan itu. Sebenarnya dia bisa memastikan dulu ke atasannya atau bertanya ke kasir. Namun karena dia bersikap seperti itu, maka cara pegawai itu memasarkan rumah makannya telah gagal.

Dan semenjak itu, saya tidak lagi berniat makan di situ. Saya akhirnya memilih makan di tempat menjual steak. Ketika saya datang dan saya tanya, pelayanannya bagus dan memuaskan saya dan keluarga.

Pelayanan kepada calong pelanggan dengan menjawab pertanyaan mereka adalah sebuah usaha pemasaran. Jika di tahap ini saja penjual sudah bersikap kurang baik kepada calon pelanggan maka jangan diharap usaha mereka akan berjalan lebih baik.

Cara pembayaran juga bagian dari usaha pemasaran. Ada tempat makan yang melayani pembayaran dengan kartu kredit, kartu debit dan kartu prabayar dengan maksud menampung pelanggan sebanyak-banyaknya dengan berbagai alat pembayaran.

Pengalaman di SPBU November 29, 2008

Posted by erwinfs in Fakta & Peristiwa.
add a comment

Sudah dua kali saya mengalami hal ini. Yaitu, mengisi bensin untuk motor saya di sebuah SPBU. Saya seringnya sekali mengisi bensin mengeluarkan biaya Rp 15.000,-. Untuk dua kali terakhir ini saya selalu memberikan uang pecahan Rp 100.000,- dan dikembalikan Rp 35.000. Yang pertama adalah petugas pria dan yang kedua adalah petugas wanita yang melayani saya. Petugas memberikan kembalian Rp 35.000,- santai saja, tidak ada kesan sengaja. Saya pun menerima dengan santai, namun setelah saya terima Rp 35.000,- maka saya sampaikan bahwa uang yang saya beri ke petugas adalah Rp 100.000,-.

SPBU ini memang menjadi favorit saya karena saya mengisi ketika sudah dijalan menuju kantor. Disamping itu, SPBU-nya sudah mendapat label Pasti Pas. Petugas yang akan mengisi memang sudah baku mengucapkan “dimulai dari angka nol ya pak” dan saya juga selalu amati angka yang tertera di mesin pengisi bensin. Untuk masalah angka nol bolehlah diberi apresiasi. Namun dari segi memberikan uang kembali, nampaknya pemilik SPBU ataupun pihak manajemen perlu melakukan sosialisasi yang lebih baik kepada petugas SPBU dalam hal melayani pelanggan.

Pengalaman Beli HP Baru November 28, 2008

Posted by erwinfs in Fakta & Peristiwa.
add a comment

Bulan Oktober lalu saya membeli sebuah handphone mahal merek Sony Erricsson J120i. Saya beli di sebuah outlet yang sudah terkenal dan punya banyak cabang. Ketika membeli saya cek semua hal yang menurut saya harus dicek mulai dari menelpon, sms, radio, menu dan fungsi-fungsi lainnya. Saya juga langsung masukkan kartu Halo saya ke handphone tersebut untuk saya pakai langsung.
Ternyata setelah sampai rumah, ketika saya mau menambah daftar di buku telepon, ada tertera nomor kontak untuk isi ulang prabayar merek tertentu. Apalagi nomor kontak untuk isi ulang tersebut bukan satu perusahaan dengan kartu Halo saya. Saya kemudian curiga, jangan-jangan handphone yang saya beli sudah dipakai. Karena sudah sampai rumah, saya akan sulit memperotes hal ini. Tapi ini mudah-mudahan bisa menjadi pelajaran bagi yang membaca tulisan saya ini. meksipun membeli di outlet yang sudah punya nama, tetap harus waspada.