Twitter menjadi salah satu media yang paling liberal. Jika Anda menset akun Twitter Anda agar bisa dibaca umum, maka berhati-hatilah untuk menerima serangan mendadak dari orang yang bukan Anda kenal. Atau twit Anda tiba-tiba diritwit oleh akun lain.
Beberapa waktu lalu saya mengalami hal seperti itu. Suatu malam saya meritwit dan memberikan komentar tentang pelaku pemerkosaan. Tiba-tiba entah datang darimana muncul pahlawan Islam kesiangan. Orang ini bukan follower saya dan usianya masih muda sekali. Padahal, follower saya yang sudah mengerti gaya bahasa saya tidak ada mengeritik isi twit saya. Hanya orang bodoh ini saja yang meritwit dan menuduh saya tukang fitnah.
Orang ini seorang developer aplikasi yang dikenal suka sedekah aplikasi. Tapi entah bisikan syaitan darimana tiba-tiba menyerang saya. Anehnya, avatar dia pun tidak jelas mukanya. Seorang temannya juga menuduh saya dajal, dan avatar dia pun tidak memperlihatkan muka dia, hanya foto anak kecil. Mungkin dia merasa masih anak kecil. Kalau memang muslim dan laki-laki, harusnya perlihatkan wajah di avatar. Kalau tidak itu bisa dibilang pengecut.
Si developer ini saya cek twitternya suka memposting berita jihad. Saya melihat, orang yang suka dengan berita jihad itu cenderung tempramental walaupun tidak semua. Buktinya si developer ini. Hanya melihat satu buah twit langsung main serang. Padahal Twitter itu microblogging. Satu twit masih ada kaitannya dengan twit lain. Apalagi bukan follower.
Jadi, jika Anda bukan follower atau mengenal sebuah akun, cernalah dulu isi twit orang dan cek dulu timeline-nya. Jika Anda hanya berpegangan pada satu twit yang hanya berjumlah 140 karakter, lalu menyerang akun orang dengan emosional, itu artinya Anda akan menunjukkan bodohnya diri Anda.
Twitter memang 140 karakter, tapi jika malas mencek timeline maupun situs/blog pemilik akun Twitter, maka Anda bisa disimpulkan sebagai orang malas yang bodoh.
Dan jangan sampai, Anda dicap pahlawan Islam kesiangan hanya karena malas membaca.